Danny Chris: Blog http://sudsu.zenfolio.com/blog en-us (C) Danny Chris sudani_sukeren@yahoo.com (Danny Chris) Tue, 10 Jan 2017 13:15:00 GMT Tue, 10 Jan 2017 13:15:00 GMT http://sudsu.zenfolio.com/img/s2/v70/u780030762-o372678342-50.jpg Danny Chris: Blog http://sudsu.zenfolio.com/blog 88 120 Visa ke iran http://sudsu.zenfolio.com/blog/2017/1/mengurus-tourist-visa-ke-iran Banyak teman mengernyitkan kening saat saya bilang berencana traveling ke Iran. Beberapa seperti tak percaya sambil mengulang apa yang saya katakan, "Iran?". Mendengar kata traveling ke Iran, memang masih terasa asing.

Iran itu, berbatasan dengan Afghanistan. Iran itu, berbatasan dengan Iraq. Iran itu, sedang diembargo. Iran itu, cari masalah dengan fasilitas nuklirnya. Iran itu, negara islam yang ketat. Apalagi, untuk orang yang pernah nonton film Argo, pasti semakin miring pandangannya tentang iran.

Namun di mata saya. Iran itu, pusat kebudayaan Persia, yang berarti tempat Darius dan Xerxes dulu berkuasa. Iran itu, tempat Persepolis berada. Iran itu, tempat budaya Zoroastrian berada. Iran itu, masih jarang dikunjungi traveler, sehingga tidak touristy. Iran itu, adventure.

Bagi orang Indonesia, berkunjung ke Iran bisa mengandalkan Tourist VoA (visa on arrival). Ini menurut web-web yang saya baca di internet, dan telah dikonfirmasi oleh kantor kedubes iran di Jakarta. Namun, saya lebih memilih untuk mengurus visa sebelum keberangkatan daripada mengandalkan VoA. Kenapa? Yang pertama lebih tenang karena saya masuk Iran dalam kondisi sudah punya visa. Teringat pengalaman ke India dulu, ditahan petugas check in Malaysia Airlines sampai hampir terlambat boarding gara-gara mereka tidak tahu informasi bahwa warga negara Indonesia pergi ke India bisa VoA (tahun itu). Yang kedua, pesawat saya bakal landing di Tehran sekitar jam 11 malam, yang artinya jika perlu waktu 2-3 jam untuk mengurus VoA dan 1 jam untuk sampai kota Tehran, saya akan sampai hotel sekitar jam 3 pagi, time consuming. Yang ketiga, mengurus visa di Jakarta lebih murah dibanding VoA. Hingga saat ini, saya belum menemukan web resmi harga VoA di Iran. Namun berdasarkan beberapa blog yang saya baca, biaya sekitar EUR40 ditambah asuransi EUR18, sehingga total bisa sekitar EUR58/orang. Sedangkan mengurus visa di kedubes Jakarta biayanya EUR20/orang. Jauh sekali bedanya, apalagi untuk budget traveler.

Nah apa saja persyaratannya?

Bawa paspor asli beserta :

1. Fotokopi paspor cukup 1 lembar

2. Foto ukuran 3x4 sebanyak 2 lembar dengan latar putih.

Untuk wanita, sebaiknya foto menggunakan syal yang dipake kerudung (jilbab). Persyaratan ini ketika saya konfirmasi ke kedubes sebenarnya tidak wajib, namun berdasarkan pengalaman traveler lain yang saya baca, pernah mengalami permintaan penggantian foto dengan yang mengenakan jilbab. Sehingga untuk kepastiannya, sebaiknya wanita foto dengan memakai jilbab. Tips : Karena saat itu saya juga mengurus visa untuk istri, saya lampirkan 2 jenis foto, berjilbab dan tidak. Biarkan petugas kedutaan Iran yang pilih, dan ternyata mereka memilih yang berjilbab.

3. Copy Tiket Jakarta-Tehran PP

4. Surat Keterangan dari Kantor, asli.

5. Copy bukti booking hotel selama di Iran.

Syarat kelima agak tricky. Kenapa? karena online booking hotel di Iran tidak semudah kalau kita ke negara lain. Saya cari-cari hotel di beberapa provider (booking.com. agoda, trivago, dll) tidak ada yang mencantumkan Iran.

Yang saya lakukan, ada 2 cara. Yang pertama dengan mencari referensi hotel dari berbagai forum traveling (LP, TA, dll), kemudian cari websitenya. Jika kebetulan hotel memiliki website, tinggal cari contact yang dapat dihubungi untuk pemesanan via email. Namun tidak semua hotel memiliki website (terutama hotel budget) dan tidak semua website hotel ada pilihan bahasa inggris. Selain website, beberapa hotel memiliki akun instagram, sehingga bisa langsung direct message ke mereka.

Yang kedua, meminta contact dari forum-forum traveler yang sudah pernah menginap di hotel yang saya tuju. Cara ini cukup berhasil, dan bahkan saya dapat nomor WA sehingga dapat melakuan booking lewat WA. Namun jangan lupa untuk meminta email konfirmasi sebagai bukti booking.

Meskipun booking hotel di Iran tidak bisa dilakukan lewat aplikasi populer seperti agoda, booking, dll namun ada satu aplikasi yang saya temukan melayani booking yaitu Homestay. Disini kita bisa booking kamar dan tinggal bersama dengan pemiliknya. Saya mencoba memesan lewat aplikasi ini, sayangnya harus saya cancel karena saya tidak membaca dengan jelas deskripsi kamarnya yang ternyata kurang cocok. Namun paling tidak, aplikasi ini bisa jadi alternatif.

Nah, setelah memenuhi persyaratan yang diminta, tinggal datang ke kedutaan Iran di daerah Menteng (dekat KPU, bisa dicari di google map). Pelayanan visa mulai jam 8.30 - 12.00 setiap Senin-Jumat.

Pelayanan cukup straightforward. Saya diminta mengisi formulir permohonan untuk saya sendiri, istri dan anak (istri dan anak tidak perlu ikut). Sedikit bercakap-cakap dengan petugasnya tentang traveling ke Iran dan tujuannya. Kemudian, saya diminta membayar senilai EUR20/orang yang harus disetorkan ke rekening kedutaan Iran di BRI terdekat (setor bisa dalam Rupiah), kemudian setelah setor biaya, saya kembali lagi ke kedutaan untuk memberikan bukti setor dan fotokopinya. Lokasi cabang BRI terdekat ada di Hotel Ibis yang berjarak sekitar 200 meter dari kedutaan Iran. Setelah itu tunggu 3-4 hari sebelum kita dihubungi kedutaan.

4 hari kemudian, saya dihubungi petugas kedutaan untuk mengambil paspor dan visa saya. Selesai.

Jadi, mengurus visa Iran ternyata tidak sulit. Selamat mencoba. Dan happy traveling...

Khodafez....

 

 

]]>
sudani_sukeren@yahoo.com (Danny Chris) backpaking biaya visa iran iran jakarta kedutaan kedutaan iran mengurus mengurus visa ke iran persyaratan visa ke iran tourist turis urus visa voa http://sudsu.zenfolio.com/blog/2017/1/mengurus-tourist-visa-ke-iran Tue, 10 Jan 2017 13:15:38 GMT
Another GAS? http://sudsu.zenfolio.com/blog/2016/2/most-used-focal-length I Love my Fuji kit lens. But sometimes i just can't resist GAS. After my trip to Nepal earlier last year, which i only bring XF14mm and XF18-55, i really lusting for XF35mm that i thought would complement my need for showing my photographic vision even better. And about 6 months later, i got my used XF35mm from a local camera store. I was very Happy....

On my last trip to China, i left my XF18-55 at home. Sometimes... i really miss the versatility of the kit lens. XF35 is just great, better image quality compared to the kit, but sometimes it is not quite versatile. Maybe it just me who still not used to photographing with single focal length.

But... i still curious, is my  XF35 can replace the XF18-55? Did i make right decision buying XF35mm?

I did some quick research about what focal length i used most on my trip to Nepal with the XF18-55. I choose among the pictures i really loves, and identified which focal length i mostly used. And this is the result...

Most of the times (about 40%) i used in at 30-40mm, which means it really close to XF35mm. So my purchased of XF35mm is justified.

But interestingly about 29% i used 50-55mm focal length. It means i used the kit lens quite a lot at the longer end.

So, do i need to complement my gear with XF56mm?...ah another GAS attack!

]]>
sudani_sukeren@yahoo.com (Danny Chris) Fuji Fuji X Series fujifilm photography http://sudsu.zenfolio.com/blog/2016/2/most-used-focal-length Sat, 20 Feb 2016 14:21:15 GMT
Tobacco for Life http://sudsu.zenfolio.com/blog/2016/2/tobacco-for-life “There is one thing the photograph must contain, the humanity of the moment.”
Robert Frank

All picture shot during 3 days trip around Yogyakarta

 

Tobacco for Life Tobacco for Life Tobacco for Life Tobacco for Life Tobacco for Life Tobacco for Life Tobacco for Life Tobacco for Life Tobacco for Life Tobacco for Life Tobacco for Life

]]>
sudani_sukeren@yahoo.com (Danny Chris) Fuji Fuji X Series fujifilm photography travel travel photography x-e1 http://sudsu.zenfolio.com/blog/2016/2/tobacco-for-life Wed, 10 Feb 2016 15:28:19 GMT
Gunung Kidul : The Land, The People, The Life http://sudsu.zenfolio.com/blog/2015/9/gunung-kidul-the-land-the-people-the-live “We are making photographs to understand what our lives mean to us.”— Ralph Hattersley

               

“The picture that you took with your camera is the imagination you want to create with reality.”— Scott Lorenzo

]]>
sudani_sukeren@yahoo.com (Danny Chris) Fuji Fuji X Series fujifilm indonesia life photography street photography travel travel photography yogyakarta http://sudsu.zenfolio.com/blog/2015/9/gunung-kidul-the-land-the-people-the-live Tue, 29 Sep 2015 16:27:54 GMT
Carnivale http://sudsu.zenfolio.com/blog/2015/8/carnivale “To me, photography is an art of observation. It’s about finding something interesting in an ordinary place… I’ve found it has little to do with the things you see and everything to do with the way you see them.”
Elliott Erwitt

 

]]>
sudani_sukeren@yahoo.com (Danny Chris) Fuji Fuji X Series carnival indonesia life photography street photography travel travel photography velvia x-e1 http://sudsu.zenfolio.com/blog/2015/8/carnivale Sun, 23 Aug 2015 03:15:02 GMT
Bhaktapur : This is Nepal http://sudsu.zenfolio.com/blog/2015/2/bhaktapur-a-life Nepal is about spectacular scenery, snow-capped mountain, highest place in the world, while i don’t disagree, but i must said that Nepal is not just about that. Nepal is more than that. The people, the way of life, the culture.

Go to Bhaktapur. It’s an old city, ancient. It's full of life. Spend a few days. Get up early to witness the morning puja. Wander around through the cobble stone alley. Hang out with locals. Or just sit watching the world goes by while enjoying a cup of tea in a cafe next to the temple. You will be rewarded not only with wonderful experience, but also wonderful feeling. That is traveling is all about.

 

Man of DettatreyaMan of Dettatreya  

 

      

 

More picture from my Nepal trip http://bit.ly/1ue1HMX

]]>
sudani_sukeren@yahoo.com (Danny Chris) Fuji Fuji X Series adventure ancient bhaktapur fujifilm nepal photography travel travel photography x-e1 xe1 http://sudsu.zenfolio.com/blog/2015/2/bhaktapur-a-life Fri, 20 Feb 2015 16:01:19 GMT
Singapore, second encounter http://sudsu.zenfolio.com/blog/2014/11/singapore-second-encounter My second trip to Singapore was to watch Pat Metheny concert. Didn't really had much time for shooting. But at the day after the show, i manage to woke up early to get some shot.

This time, Singapore in B&W

]]>
sudani_sukeren@yahoo.com (Danny Chris) Fuji X Series Fujifilm Marina Singapore fuji photography travel x-e1 http://sudsu.zenfolio.com/blog/2014/11/singapore-second-encounter Sat, 01 Nov 2014 08:50:54 GMT
What a coincidence.... http://sudsu.zenfolio.com/blog/2014/9/what-a-coincidence Steve McCurry has always been one of my favorite photographer. His photo always inspire many photographer around the world, including me.

One thing surprise me when i browse his website galleries http://stevemccurry.com/galleries , i found one of his picture that really surprising.

He traveled to Burma probably about 30 years ago, but... he took the same subject (probably or probably not) as i did in 2013. What a coincidence! Check out below picture. The first is McCurry's, the second is mine.

 

Mc Curry's photo, taken from Burmacopyright ©Steve McCurry

copyright ©Steve McCurry

 

 

My photo, taken on Burma... 30 years later

my photo

I'm sure that his picture is much more powerful than mine, giving more context that i should learn more and more.

But again... what a coincidence.... and what next?

 

]]>
sudani_sukeren@yahoo.com (Danny Chris) Fuji Fujifilm burma myanmar photography steve mccurry travel x-e1 http://sudsu.zenfolio.com/blog/2014/9/what-a-coincidence Sun, 14 Sep 2014 13:13:26 GMT
East Nusa Tenggara Trip with the Fuji X-E1 http://sudsu.zenfolio.com/blog/2014/3/east-nusa-tenggara-trip-with-fuji-x-e1 I'm not a gear reviewer and don't have technical competency to review gear i've used. This post is just about sharing my picture which i took with my Fuji X-E1.

I travel a lot, for pleasure or work. I usually don't bring my gear with me when traveling for work. But this time, i just couldn't help it. It is East Nusa Tenggara, a place i've been waiting to visit and a place i would absolutely love to photograph.
But this is not a long trip, not a photographic trip either. Just a short visit for work. But...i do not want to miss a thing.

I brought with me my lovely Fuji X-E1, Fuji Lens XF 18-55, my trusty tripod with...filters (i love filters) : CPL Marumi DHG, Kood ND 0.9, Kood GND 0.9 Hard Grad, Hitech Reverse GND 0.9

Here's some pictures

 

Twilight at Maumere

Colors

Vertical version with the rock as foreground

On the RockOn the RockOn the Rock

a touch of BW

ImagineImagine

A lonely boat

WaitingWaiting

Always love to see this

A Simple HappinessA Simple Happiness

Good night

Good Night MaumereGood Night Maumere

Mute

MutedMuted

Other picture here http://bit.ly/1jjJp27

cheers
 

]]>
sudani_sukeren@yahoo.com (Danny Chris) Fuji flores fujifilm indonesia photography travel x-e1 xe1 http://sudsu.zenfolio.com/blog/2014/3/east-nusa-tenggara-trip-with-fuji-x-e1 Sun, 30 Mar 2014 07:48:32 GMT
Street of Yangon : It's more than just the destination http://sudsu.zenfolio.com/blog/2013/7/street-of-yangon Today, i have traveled to almost all of South East Asian country. Some folks asked me what do i really looking for?

To me, traveling is not merely leaving my footprint on remarkable place, and go back with some bunch of pictures of myself with monuments, sign or whatever on the background just to show people that i was there. In fact, of my hundreds or maybe thousand pictures i take while i'm traveling, i can hardly found picture of myself.

It is about what you see, what you feel, what you understand about the places, the people, the life, the culture. That's the kind of memory i would like to bring with me when i'm home.

It is not merely about the destination, it's more about traveling itself.

 

I take this series of picture while i'm traveling to Yangon, Myanmar.

Enjoy!

 

 

 

For those who interested on the gear i used, it's the Fuji X-E1 with the Fujinon 18-55 lens.

 

]]>
sudani_sukeren@yahoo.com (Danny Chris) Burma Fuji Myanmar Neg Pro X-E1 Yangon photography travel travel photography http://sudsu.zenfolio.com/blog/2013/7/street-of-yangon Sun, 21 Jul 2013 04:44:23 GMT
My new gear, the Fuji X-E1 http://sudsu.zenfolio.com/blog/2013/2/my-new-gear-the-fuji-x-e1 Still don't have very much time to play with, surely its my next travel camera to Myanmar. Really excited and can't wait for it

 

A few dirty sample shot.... Straight out of the camera in BW mode, no edit

think i'm gonna shoot more in BW

 

 

 

]]>
sudani_sukeren@yahoo.com (Danny Chris) http://sudsu.zenfolio.com/blog/2013/2/my-new-gear-the-fuji-x-e1 Sat, 16 Feb 2013 07:13:51 GMT
A series of Landscape (BW) http://sudsu.zenfolio.com/blog/2013/1/in-the-mood-of-bw-a-landscape-series I love shooting landscape. Sometime landscape isn't just about colors! Some interesting landscape can be created by emphasizing contrast, and strong contrast can be produce by black and white image.

 

This Picture is taken just outside Likir Monastery, Ladakh. Using slow shutter speed to capture water movement. In the background is Himalayan mountain range on summer. Hot and fresh!

 

The Taj Mahal. Captured from across Yamuna river. An overcast afternoon at Agra, India.

 

A shot from top of hill where Stok Palace lies, Ladakh. Afternoon sun light coming from left, creating a fascinating contour on the mountain. It add some texture on it.

 

I just like the contrast of this shot. Very dark foreground combining with brighter background which is nice. A snap shot during my way to Alchi Monastery, Ladakh. Somewhere between Leh and little village of Alchi.

 

Getting back from Alchi, Ladakh, i found that the mountain texture is very pleasing. Kind of erosion effect look alike. Probably due to the snow or glacier. Just wondering what nature can bring something really beautiful. Shoot from a moving car with average speed.

 

This one i took at Polonnaruwa, Sri Lanka. What a beautiful ruin! Dying tree in the foreground and palace ruin in the background. A combination effecting on a very strange feeling. Morning sun coming from behind, adding some nice shadow of the tree.

 

 

The majestic Thiksey monastery. Another sample of Ladakh structure. Love the leading line created by the small tree, directing the eye to the hill monastery. Taken at midday. Hot and breezy.

 

Open blue sky, white cloud, hard wind. Shoot from top of Thiksey monastery, Ladakh.

 

]]>
sudani_sukeren@yahoo.com (Danny Chris) http://sudsu.zenfolio.com/blog/2013/1/in-the-mood-of-bw-a-landscape-series Sun, 20 Jan 2013 10:14:55 GMT
Luang Prabang http://sudsu.zenfolio.com/blog/2012/3/luang-prabang Kabut tipis masih belum beranjak pergi, ketika bus yang saya tumpangi berhenti di sebuah kota diantara bukit-bukit yang tandus. Suara para sopir angkutan yang bersahutan menyambut saya ketika untuk kali pertama menginjakkan kaki di kota ini, dengan bahasa yang tentu saja tidak saya mengerti. Mereka menawarkan jasa angkutan ke kota.

Bus yang saya tumpangi berhenti di sebuah terminal kecil di pinggiran kota. Tak ubahnya sebuah lapangan yang berukuran tidak lebih dari 50x50m, yang di tengahnya dibangun tempat tunggu penumpang. Sekilas tidak tampak seperti terminal bus pada umumnya, karena hanya bus sayalah satu-satunya yang ada disana.  Lebih banyak angkutan umum yang terlihat, mobil bak terbuka dengan atap semi permanen dan dipasang kursi berhadapan, atau motor bebek yang di bagian belakangnya dipasang semacam gerobak dengan tempat duduk. Itu adalah angkutan yang umum ada disini.

Ada perasaan senang, penasaran, tidak sabar dan kekhawatiran yang campur aduk menjadi satu, seperti halnya saat-saat jika pertama kali saya menginjakkan kaki di tempat baru yang sudah lama ingin saya kunjungi..

Kota ini bernama Luang Prabang, sebuah kota kecil di bagian utara Laos, namun salah satu kota utama di negara ini selain ibukota, Vientiane. Dahulu kota ini bernama Xiang Dong Xiang Thong, sebuah kota yang menjadi ibukota kerajaan Lan Xang di masa lampau. Adalah sejarah yang membuat Luang Prabang sungguh terkenal, dan sejarah itu masih terlukis dengan indah diantara bangunan-bangunan kuil dan reruntuhan yang masih berdiri kokoh.

Semoga perjalanan saya semalam suntuk selama 10 jam dari Vientiane akan terbayar dengan keelokan Luang Prabang.

Luang Prabang...diantara perbukitanNight View

"Kota Luang Prabang, diantara perbukitan"

 

° ° ° ° °

Kota Lama (Old Town) Luang Prabang masih merepresentasikan sisa-sisa kejayaan kerajaan Lan Xang. Untuk mengabadikan catatan sejarah, hampir setiap jalan dinamai dengan nama raja-raja.

Luang Prabang, dibelah sebuah jalan lurus yang menembus hingga ke muara Sungai Nam Khan, jalan Sisavangvong. Nama yang diambil dari salah satu nama raja besar Lan Xang. Sejajar dengan jalan Sisavangvong, di sepanjang tepi sungai mekong ada jalan Soulignavongsa, yang diambil dari nama salah satu raja Lan Xang, Suliyavongsa. Dan di bagian lain yang juga sejajar dengan Jalan Sisavangvong terdapat jalan Kingkitsalat, yang diambil dari nama cucu raja Suliyavongsa.

Bangunan tua dan khas, berdiri di sepanjang kiri dan kanan jalan, sebagian telah berubah menjadi cafe, diantaranya berdiri kuil-kuil Budha yang anggun dan masih terawat.

The french legacy

"Sisi jalan Sisavangvong"

 

Pha Bang

"Pha Bang"

° ° ° ° °

”Tak baaat, tak baaat misteer...” suara itu terdengar lirih dan mengalun. Berasal seorang wanita berpakaian khas Laos yang sedang menjajakan sejenis penganan dari nasi.

Hari masih sangat pagi, kabut masih mejalari seisi kota dan dingin masih merayap, jarak pandang mata tak lebih dari 30 meter. Rupanya para wanita ini sedang menjual nasi pada para pengunjung prosesi morning alm (dalam bahasa lokal disebut tak baat). Beberapa pengunjung memang senang ikut serta dalam prosesi ini. Menurut saya, lebih baik kita melihat saja, dari jarak yang cukup sehingga tidak mengganggu kekhidmatan acara.

Saya bergegas, segera saya menuju jalan Sisavangvong. Tepat di depat Wat Sene saya berhenti. Dari seberang jalan saya mulai mengamati.

Perlahan, dari ujung jalan Sisavangsong, di dekat muara sungai Nam Khan, terlihat bayangan berwarna oranye, bayangan itu bergerak mendekat, itu adalah barisan para biksu. Berjalan tanpa alas kaki dan  tanpa bersuara, mengenakan jubah khas, dalam barisan yang panjang dan rapi, perlahan mereka menyusuri jalan Sisavangvong. Tepat dari depan Wat Sene hingga ke pangkal jalan Sisavangvong, masyarakat sekitar penganut agama Buddha berbaris. Sambil menekuk kaki, dalam posisi sembahyang mereka menyiapkan nasi yang akan diberikan sebagai bekal para Biksu. Para biksu mendekat, dengan semacam kuali tergantung di bahu. Sepasang tangan terulur, sepasang tangan yang lain menerima.

Waktu berjalan, prosesi berlangsung khidmat. Tanpa suara, hanya doa-doa yang mengalun lembut dari para biksu seraya menerima pemberian bekal dari para penganut ajaran Buddha.

Tak kurang dari 1 jam prosesi ini berlangsung, makin banyak barisan biksu mendekat, hingga akhirnya matahari mulai menyeruak, dan barisan itu perlahan mulai menyusut.

Sinar terang mulai menjalar, prosesi telah selesai, para Biksu telah kembali ke kuil masing masing, beberapa terlihat membersihkan kuil dan jalan-jalan di depannya. Toko-toko mulai membuka pintu, siap menerima pengunjung baru, bau asap makanan menusuk hidung, lalu lalang sepeda mulai terlihat, penduduk memulai aktivitas, Luang Prabang telah memulai hari yang baru.

 

Orange ghost?

"Tak baat"

° ° ° ° °

Tak ubahnya dengan negara-negara yang ada di sekitar daerah tropis lainnya, panasnya matahari siang di Luang Prabang terasa menggigit.  Beruntung jalan-jalan di kota ini masih dinaungi pohon pohon besar yang sanggup mengurangi teriknya matahari.

Namun, panasnya matahari tak mengikis semangat untuk mengitari lekuk-lekuk kota ini. Luang Prabang mungkin layak disebut kota seribu kuil. Meskipun kota ini kecil, satu hari tidaklah cukup untuk mengunjungi semua kuil yang masih aktif menjadi tempat ibadah kaum Buddha disini.

Wat Xieng Thong, mungkin salah satu yang terindah. Letaknya di ujung kota, didekat muara sungai Nam Khan, Wat Xieng Thong megah berdiri. Bersih dan terawat. Dikelilingi tumbuh-tumbuhan dengan bunga berwarna warni, pohon-pohon besar menaungi hingga terlindung dari terik matahari.

 

Lamp Xieng Thong

"Lampion di Wat Xiang Thong"

 

Colorful Lao

"Dijemur"

 

Selalu dikonotasikan sebagai tempat darmawisata anak-anak, museum adalah salah satu tempat wajib jika kita ingin memperoleh gambaran tentang sejarah sebuah kota atau bahkan negara. Pun di Luang Prabang, sejarah kegemilangan negeri Lan Xang tidak hanya berita dari mulut ke mulut saja. Museum Luang Prabang sungguh mendokumentasikan dengan lengkap sejarah kegemilangan kerajaan Lan Xang, cikal bakal Negara Laos.

Riwayat kerajaan, silsilah keluarga raja, hingga legenda-legenda dilukiskan dengan indah menghiasi dinding-dingding museum yang dulunya adalah istana dan tempat tinggal keluarga kerajaan.

Koleksi mobil mobil keluarga kerajaan semuanya juga dipertontonkan disini, betapa pengaruh modernisasi sangat terasa seiring masuknya pengaruh ke kerajaan Lan Xang

Luang Prabang, adalah kota yang lengkap dari sisi keadaan geografisnya. Dari bukit setinggi ratusan meter, Mount Phou si, hingga lembah dimana sungai mekong dan nam khan terlindung.

Keelokan seluruh kota bisa dinikmati dari puncak Mount phou si, suasana tenang dan akan sangat terasa kala senja sudah mulai turun dengan matahari yang mulai terbenam diantara lekuk lekuk pegunungan jauh di seberang sungai mekong

Dragon

"Naga"

° ° ° ° °

Sore itu, lalu lintas di pusat kota Luang Prabang sangat sibuk. Kendaraan roda dua berlalu lalang, suara mesin menderu dan tak mau kalah dengan kendaraan roda empat yang juga mulai berdatangan.

Ujung jalan Sisavangvong mulai tidak bersahabat dengan para pejalan kaki. Tiba-tiba jalanan di penuhi dengan orang-orang yang sibuk mendirikan tenda, menggelar tikar, membongkar muatan dari motor atau mobil bak terbuka.

Entah darimana datangnya orang-orang ini. Luang Prabang tidaklah cukup untuk mencakupi populasi sebanyak ini. Pastilah mereka datang dari berbagai daerah di sekitar kota. Kota kecil ini sore ini seakan menjadi magnet, orang datang berbondong-bondong mencari rejeki.

Suasana begitu ramai, dibawah matahari sore yang hangat, sambil meneguk segelas minuman dingin, dari ujung jalan saya menikmati pemandangan ini.

Tenda berwarna warni sudah mulai terpasang dengan dialasi tikar-tikar tradisional, satu keluarga sibuk menyusun dagangan, seorang wanita sibuk mengikat terpal tendanya yang tertiup angin, ada kompor-kompor yang mulai dinyalakan, arang yag dibakar, suara penggorengan mulai terdengar dan dibeberapa tempat asap mulai terlihat mengepul.

Karung-karung mulai diturunkan dari atas kendaraan, berbagai macam jenis kain, pakaian dan berbagai macam barang mulai di keluarkan, disusun dengan berjajar rapi dibawah tenda-tenda yang berwarna-warni, berbagai barang dagangan mulai digelar. Kain tradisional berbagai motif, lampion-lampion dengan berbagai model, suvenir khas, semua ada disini.

Pasar malam Luang Prabang telah siap menutup hari ini.

Vibrant Lao

"Pasar malam Luang Prabang"

° ° ° ° °

Diawali dengan sunyi dan dinamisnya tak baat, diakhiri dengan warna-warni pasar malam, hari-hari di Luang Prabang terasa berjalan lambat, monoton namun dinamis, tua namun kaya warna, anggun tapi kemegahannya tetap terasa.

Alone

"Kuil kedamaian"

]]>
sudani_sukeren@yahoo.com (Danny Chris) http://sudsu.zenfolio.com/blog/2012/3/luang-prabang Tue, 06 Mar 2012 09:25:50 GMT