Luang Prabang

March 06, 2012  •  Leave a Comment

Kabut tipis masih belum beranjak pergi, ketika bus yang saya tumpangi berhenti di sebuah kota diantara bukit-bukit yang tandus. Suara para sopir angkutan yang bersahutan menyambut saya ketika untuk kali pertama menginjakkan kaki di kota ini, dengan bahasa yang tentu saja tidak saya mengerti. Mereka menawarkan jasa angkutan ke kota.

Bus yang saya tumpangi berhenti di sebuah terminal kecil di pinggiran kota. Tak ubahnya sebuah lapangan yang berukuran tidak lebih dari 50x50m, yang di tengahnya dibangun tempat tunggu penumpang. Sekilas tidak tampak seperti terminal bus pada umumnya, karena hanya bus sayalah satu-satunya yang ada disana.  Lebih banyak angkutan umum yang terlihat, mobil bak terbuka dengan atap semi permanen dan dipasang kursi berhadapan, atau motor bebek yang di bagian belakangnya dipasang semacam gerobak dengan tempat duduk. Itu adalah angkutan yang umum ada disini.

Ada perasaan senang, penasaran, tidak sabar dan kekhawatiran yang campur aduk menjadi satu, seperti halnya saat-saat jika pertama kali saya menginjakkan kaki di tempat baru yang sudah lama ingin saya kunjungi..

Kota ini bernama Luang Prabang, sebuah kota kecil di bagian utara Laos, namun salah satu kota utama di negara ini selain ibukota, Vientiane. Dahulu kota ini bernama Xiang Dong Xiang Thong, sebuah kota yang menjadi ibukota kerajaan Lan Xang di masa lampau. Adalah sejarah yang membuat Luang Prabang sungguh terkenal, dan sejarah itu masih terlukis dengan indah diantara bangunan-bangunan kuil dan reruntuhan yang masih berdiri kokoh.

Semoga perjalanan saya semalam suntuk selama 10 jam dari Vientiane akan terbayar dengan keelokan Luang Prabang.

Luang Prabang...diantara perbukitanNight View

"Kota Luang Prabang, diantara perbukitan"

 

° ° ° ° °

Kota Lama (Old Town) Luang Prabang masih merepresentasikan sisa-sisa kejayaan kerajaan Lan Xang. Untuk mengabadikan catatan sejarah, hampir setiap jalan dinamai dengan nama raja-raja.

Luang Prabang, dibelah sebuah jalan lurus yang menembus hingga ke muara Sungai Nam Khan, jalan Sisavangvong. Nama yang diambil dari salah satu nama raja besar Lan Xang. Sejajar dengan jalan Sisavangvong, di sepanjang tepi sungai mekong ada jalan Soulignavongsa, yang diambil dari nama salah satu raja Lan Xang, Suliyavongsa. Dan di bagian lain yang juga sejajar dengan Jalan Sisavangvong terdapat jalan Kingkitsalat, yang diambil dari nama cucu raja Suliyavongsa.

Bangunan tua dan khas, berdiri di sepanjang kiri dan kanan jalan, sebagian telah berubah menjadi cafe, diantaranya berdiri kuil-kuil Budha yang anggun dan masih terawat.

The french legacy

"Sisi jalan Sisavangvong"

 

Pha Bang

"Pha Bang"

° ° ° ° °

”Tak baaat, tak baaat misteer...” suara itu terdengar lirih dan mengalun. Berasal seorang wanita berpakaian khas Laos yang sedang menjajakan sejenis penganan dari nasi.

Hari masih sangat pagi, kabut masih mejalari seisi kota dan dingin masih merayap, jarak pandang mata tak lebih dari 30 meter. Rupanya para wanita ini sedang menjual nasi pada para pengunjung prosesi morning alm (dalam bahasa lokal disebut tak baat). Beberapa pengunjung memang senang ikut serta dalam prosesi ini. Menurut saya, lebih baik kita melihat saja, dari jarak yang cukup sehingga tidak mengganggu kekhidmatan acara.

Saya bergegas, segera saya menuju jalan Sisavangvong. Tepat di depat Wat Sene saya berhenti. Dari seberang jalan saya mulai mengamati.

Perlahan, dari ujung jalan Sisavangsong, di dekat muara sungai Nam Khan, terlihat bayangan berwarna oranye, bayangan itu bergerak mendekat, itu adalah barisan para biksu. Berjalan tanpa alas kaki dan  tanpa bersuara, mengenakan jubah khas, dalam barisan yang panjang dan rapi, perlahan mereka menyusuri jalan Sisavangvong. Tepat dari depan Wat Sene hingga ke pangkal jalan Sisavangvong, masyarakat sekitar penganut agama Buddha berbaris. Sambil menekuk kaki, dalam posisi sembahyang mereka menyiapkan nasi yang akan diberikan sebagai bekal para Biksu. Para biksu mendekat, dengan semacam kuali tergantung di bahu. Sepasang tangan terulur, sepasang tangan yang lain menerima.

Waktu berjalan, prosesi berlangsung khidmat. Tanpa suara, hanya doa-doa yang mengalun lembut dari para biksu seraya menerima pemberian bekal dari para penganut ajaran Buddha.

Tak kurang dari 1 jam prosesi ini berlangsung, makin banyak barisan biksu mendekat, hingga akhirnya matahari mulai menyeruak, dan barisan itu perlahan mulai menyusut.

Sinar terang mulai menjalar, prosesi telah selesai, para Biksu telah kembali ke kuil masing masing, beberapa terlihat membersihkan kuil dan jalan-jalan di depannya. Toko-toko mulai membuka pintu, siap menerima pengunjung baru, bau asap makanan menusuk hidung, lalu lalang sepeda mulai terlihat, penduduk memulai aktivitas, Luang Prabang telah memulai hari yang baru.

 

Orange ghost?

"Tak baat"

° ° ° ° °

Tak ubahnya dengan negara-negara yang ada di sekitar daerah tropis lainnya, panasnya matahari siang di Luang Prabang terasa menggigit.  Beruntung jalan-jalan di kota ini masih dinaungi pohon pohon besar yang sanggup mengurangi teriknya matahari.

Namun, panasnya matahari tak mengikis semangat untuk mengitari lekuk-lekuk kota ini. Luang Prabang mungkin layak disebut kota seribu kuil. Meskipun kota ini kecil, satu hari tidaklah cukup untuk mengunjungi semua kuil yang masih aktif menjadi tempat ibadah kaum Buddha disini.

Wat Xieng Thong, mungkin salah satu yang terindah. Letaknya di ujung kota, didekat muara sungai Nam Khan, Wat Xieng Thong megah berdiri. Bersih dan terawat. Dikelilingi tumbuh-tumbuhan dengan bunga berwarna warni, pohon-pohon besar menaungi hingga terlindung dari terik matahari.

 

Lamp Xieng Thong

"Lampion di Wat Xiang Thong"

 

Colorful Lao

"Dijemur"

 

Selalu dikonotasikan sebagai tempat darmawisata anak-anak, museum adalah salah satu tempat wajib jika kita ingin memperoleh gambaran tentang sejarah sebuah kota atau bahkan negara. Pun di Luang Prabang, sejarah kegemilangan negeri Lan Xang tidak hanya berita dari mulut ke mulut saja. Museum Luang Prabang sungguh mendokumentasikan dengan lengkap sejarah kegemilangan kerajaan Lan Xang, cikal bakal Negara Laos.

Riwayat kerajaan, silsilah keluarga raja, hingga legenda-legenda dilukiskan dengan indah menghiasi dinding-dingding museum yang dulunya adalah istana dan tempat tinggal keluarga kerajaan.

Koleksi mobil mobil keluarga kerajaan semuanya juga dipertontonkan disini, betapa pengaruh modernisasi sangat terasa seiring masuknya pengaruh ke kerajaan Lan Xang

Luang Prabang, adalah kota yang lengkap dari sisi keadaan geografisnya. Dari bukit setinggi ratusan meter, Mount Phou si, hingga lembah dimana sungai mekong dan nam khan terlindung.

Keelokan seluruh kota bisa dinikmati dari puncak Mount phou si, suasana tenang dan akan sangat terasa kala senja sudah mulai turun dengan matahari yang mulai terbenam diantara lekuk lekuk pegunungan jauh di seberang sungai mekong

Dragon

"Naga"

° ° ° ° °

Sore itu, lalu lintas di pusat kota Luang Prabang sangat sibuk. Kendaraan roda dua berlalu lalang, suara mesin menderu dan tak mau kalah dengan kendaraan roda empat yang juga mulai berdatangan.

Ujung jalan Sisavangvong mulai tidak bersahabat dengan para pejalan kaki. Tiba-tiba jalanan di penuhi dengan orang-orang yang sibuk mendirikan tenda, menggelar tikar, membongkar muatan dari motor atau mobil bak terbuka.

Entah darimana datangnya orang-orang ini. Luang Prabang tidaklah cukup untuk mencakupi populasi sebanyak ini. Pastilah mereka datang dari berbagai daerah di sekitar kota. Kota kecil ini sore ini seakan menjadi magnet, orang datang berbondong-bondong mencari rejeki.

Suasana begitu ramai, dibawah matahari sore yang hangat, sambil meneguk segelas minuman dingin, dari ujung jalan saya menikmati pemandangan ini.

Tenda berwarna warni sudah mulai terpasang dengan dialasi tikar-tikar tradisional, satu keluarga sibuk menyusun dagangan, seorang wanita sibuk mengikat terpal tendanya yang tertiup angin, ada kompor-kompor yang mulai dinyalakan, arang yag dibakar, suara penggorengan mulai terdengar dan dibeberapa tempat asap mulai terlihat mengepul.

Karung-karung mulai diturunkan dari atas kendaraan, berbagai macam jenis kain, pakaian dan berbagai macam barang mulai di keluarkan, disusun dengan berjajar rapi dibawah tenda-tenda yang berwarna-warni, berbagai barang dagangan mulai digelar. Kain tradisional berbagai motif, lampion-lampion dengan berbagai model, suvenir khas, semua ada disini.

Pasar malam Luang Prabang telah siap menutup hari ini.

Vibrant Lao

"Pasar malam Luang Prabang"

° ° ° ° °

Diawali dengan sunyi dan dinamisnya tak baat, diakhiri dengan warna-warni pasar malam, hari-hari di Luang Prabang terasa berjalan lambat, monoton namun dinamis, tua namun kaya warna, anggun tapi kemegahannya tetap terasa.

Alone

"Kuil kedamaian"


Comments

No comments posted.
Loading...
Subscribe
RSS
Archive
January February March (1) April May June July August September October November December
January (1) February (1) March April May June July (1) August September October November December
January February March (1) April May June July August September (1) October November (1) December
January February (1) March April May June July August (1) September (1) October November December
January February (2) March April May June July August September October November December
January (1) February March April May June July August September October November December